BLOGGER TEMPLATES AND Gaia Layouts »

Senin, 25 Januari 2010

MPj04409660000[1]

Jumat, 08 Mei 2009

Dongeng

Balon Keinginan
Setiap warga kerajaan Khayali bisa mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. Di sebelah timur istana Raja Don ada sebuah ruangan ajaib. Kamar Keinginan namanya. Kamar itu sangat luas. Di langit-langitnya yang tinggi terdapat Balon-Balon Keinginan berwarna-warni. Besar, kecil, berterbangan dan bergerak bebas. Permukaaan balon-balon itu berkilauan. Kalau saling bertabrakan akan memantul-mantul. Setiap warga Khayali boleh memasuki kamar itu. Jika membayar dua keping, mereka bisa menyewa alat penangkap balon. Warga tidak boleh membawa alat sendiri. Berbagai macam balon keinginan ada di situ. Asal sabar, siapa saja bisa meraih balon-balon tersebut. Balon berisi keinginan yang mudah dikabulkan biasanya melayang lebih rendah. Gerakannya juga lebih lamban. Tipo kecil adalah warna kerajaan Khayali. Ia sering berkhayal memiliki dua keping uang. Ia ingin menangkap balon “Pembuat PR”. Supaya ia tak perlu mengerjakan PR-nya setiap hari. Namun, Tipo merasa heran melihat ayahnya. Ayah Tipo, Pak Seblu, tidak tertarik pada balon keinginan. Pada suatu hari, Pak Seblu dipanggil menghadap Raja Don. Raja Don memerintahnya untuk membuat Gapura Istana yang baru. Gapura itu harus lebih bagus dan megah. Pak Seblu memang sudah biasa merancang rumah dan taman. Tapi baru kali ini mendapat pesanan dari Raja. Pak Seblu senang, tapi juga gugup dan takut akan mengecewakan Raja Don. Tiga hari Pak Seblu melamun saja di bawah pohon halaman Istana. Kertas dan pena tergeletak di sampingnya. Setelah itu, Pak Seblu mengurung diri di ruang kerjanya. Hanya sesekali ia keluar. Kumis dan jenggotnya memanjang tak terurus. Tipo kesepian, karena biasanya ia bercanda dan mengobrol dengan ayahnya. Untung ibunya tahu kesepian hati Tipo. Setiap sore, saat ayahnya di ruang kerja, Tipo berjalan-jalan dengan Ibu. “Bu, kenapa Ayah tidak mengambil saja balon keinginan “Gapura Baru Istana”? Supaya Ayah tak perlu susah-susah bekerja.” Ibu tersenyum sedikit, lalu berkata, “Tipo, jawaban pertanyaan itu harus kamu temukan sendiri. Semua warga negeri ini harus menemukan jawaban masalahnya sendiri. Kalau belum mendapatkannya, dia tidak akan pernah menjadi dewasa.” Mendengar jawaban itu, Tipo hanya diam. Ia tidak mengerti maksud perkataan ibunya. Suatu sore, Tipo mengisi waktunya dengan menyusun pasel dari Paman Miwin. Pasel kayu itu susah sekali. Tapi menurut gambar petunjuknya, pasel itu akan membentuk gambar jembatan gantung yang indah sekali. Esoknya, ayah Tipo sudah bercukur rapi. Dengan wajah berseri Pak Seblu berkata bahwa gambar rancangannya sudah selesai. Sambil sarapan ayah Tipo berkata ia akan menghadap Raja. Tipo senang sekali. “Ah, Ayah akan segera bisa menemaniku membuat pasel itu,” pikirnya. Di jalan sepulang sekolah Tipo menemukan sekeping uang. “Wow, ini hari keberuntunganku,” serunya. Tetapi di rumah, Ayah belum pulang dari istana. Sampai petang juga belum. Akhirnya ketika Tipo sudah mengatuk barulah Ayah pulang. Rupanya Raja Don menyetujui rancangan Pak Seblu. Dan langsung menyuruh Pak Seblu untuk mempersiapkan bahan bangunan dan pekerjanya. Tipo tidur dengan gelisah. “Ayah pasti akan sibuk lagi sampai Gapura itu selesai,” keluhnya. Bangun tidur, dipandanginya pazel yang setengah jadi itu. Rasanya Tipo ingin menendangnya. Mula-mula ia memang senang mengerjakannya. Tetapi sekarang ia menemukan bagian yang sulit. Tipo ingin dibantu ayahnya. Sambil bersiap ke sekolah Tipo melamun. Lalu, “Aha, aku tahu!” Ia berlari menemui Ibu dan meminta uang, “Satu kepiiiiing, saja Bu, boleh ya?” rayunya. Ibu ingin menggembirakan hati Tipo, jadi ia memberikan satu keping. Tipo punya rencana. Sepulang sekolah, ia pergi ke Kamar Keinginan. Ia ingin menangkap balon “Gapura Baru Istana” supaya tugas Bapak segera selesai. Dimasukinya Kamar Keinginan itu dengan takjub. Kamar itu lebih indah dari cerita orang kepadanya. Pak Penjaga tersenyum-senyum melihat Tipo masih melongo. “Nak, ini tangga dan jaringnya. Maaf, saya hanya boleh membantu sampai di pintu saja”, katanya. “Selamat, semoga keinginanmu tercapai, Nak.” Lalu ditutupnya pintu besar itu. Bam! Tipo repot menggeret tangga dan mengempit jaring yang lebih panjang dari tubuhnya. Dipanjatnya tangga di tengah ruangan. Matanya mencari-cari. Tak lama kemudian ia melihat balon “Gapura” sedang melayang menjauh. Susah payah diraihnya dengan jaring. Tidak berhasil. Dilihatnya balon “Pembuat PR” lewat. Dia tak mau balon itu. Tipo akhirnya merasa lelah. Ia berbaring di lantai, beristirahat. Kemudian dicobanya lagi. Sampai pegal leher dan lengannya, tapi balon “Gapura” itu tak juga tertangkap. Ia tak mau menyerah. Ia ingin membebaskan ayahnya dari kerja kerasnya. Akhirnya yang tertangkap malah balon kecil bertulisan “Pasel Selesai”. Ingin dilepasnya lagi balon ini, dan menangkap balon “Gapura” itu. Tapi dia sudah sangat lelah. Diputuskannya untuk membawa balon itu pulang. Daripada uang dua kepingnya habis percuma. Sampai di rumah, Ibu dan Ayah sudah cemas menunggunya. Mereka menemani Tipo ke kamarnya. Dan ajaib betul! Pasel jembatan itu sudah jadi! Indah sekali, tapi anehnya Tipo tidak terlalu senang. “Ah, lebih jika aku sendiri yang berhasil menemukan keping pasel yang tepat. Lebih puas!” katanya. “Sudah mulai besar anak kita, ya?” kata Ayah tersenyum pada Ibu. “Sudah tahu kalau bersusah payah mencapai keinginan akan lebih memuaskan.” “Sebetulnya, di Kamar Keinginan itu aku juga bekerja keras, lo, Yah, Bu. Padahal kupikir menangkap Balon Keinginan itu gampang,” celetuk Tipo. Mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak.

Raja Kayu
Oleh: Hariyadi (Bobo No. 23/XXIX)
Seperti biasanya, Sukresh mengikuti ayahnya ke hutan. Setelah menebang satu dua pohon, ayah Sukresh mengajak Sukresh beristirahat. Bekal kue beras buatan ibu, mereka lahap habis. "Kalau kau besar nanti, kau akan mampu menebang pohon lebih banyak dari Ayah," ujar ayah Sukresh sambil membetulkan sorbannya. Sukresh hanya terdiam. Ketika hari menjelang siang, ayah segera memotong kayu menjadi kecil-kecil dan mengikatnya menjadi satu. Kayu-kayu itu akan diangkut dan dijual ke pasar. Pasti ibu senang melihat mereka mampu menjual kayu lebih banyak lagi pada hari itu. Namun ketika akan mengangkut kayu ke pundaknya, tiba-tiba kaki ayah tergelincir. Tubuh ayah terperosok ke tepi tebing kecil. Sukresh terkejut. Dengan tertatih-tatih ia menuruni tebing. Diperiksanya setiap rerimbunan. Betapa terkejut ketika ia menemukan ayahnya yang pingsan. Namun lebih terkejut lagi ketika ia melihat seekor ular besar siap mematuk ayahnya. "Jangan gigit ayahku!" teriak Sukresh keras. Ajaib. Ular itu memandang Sukresh. "Tubuh ayahmu menindih tiga anakku hingga mati. Maka balasan yang setimpal adalah nyawa ayahmu juga," jawab ular itu. "Apa pun akan kulakukan asal kau tidak menggigit ayahku," pinta Sukresh. "Baiklah. Sebagai gantinya, setiap mencari kayu bakar, kau harus menyediakan kayu bakar untukku sebanyak tiga ikat sebagai ganti nyawa tiga anakku. Kau hanya boleh membawa pulang satu ikat kayu bakar sebagai pengganti nyawa ayahmu. Dan ingat, perjanjian ini tidak boleh ada yang tahu. Termasuk ayah dan ibumu." "Baik, kalau itu yang kau minta. Asal kau lepaskan ayahku." Sejak saat itu Sukresh menggantikan ayahnya mencari kayu bakar di hutan. Ayahnya tidak dapat berjalan karena kakinya luka akibat tergelincir. Hari-hari penuh kerja keras dilalui Sukresh. Setiap ia menebang empat pohon, tiga pohon dilemparkannya ke dalam jurang. Satu pohon dibawanya ke pasar untuk dijual. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Sukresh tumbuh menjadi pemuda berbadan besar dan kuat. Namun setiap kembali dari hutan dia hanya membawa satu ikat kayu bakar. Orang-orang desa mulai berbisik-bisik mengejek. Sungguh tidak pantas bila Sukresh hanya membawa satu ikat. Tidak sepadan dengan besar tubuhnya. "Sukresh anak pemalas. Di hutan kerjanya hanya melamun," begitu cibiran pemuda-pemuda di desa itu. Sukresh hanya diam. Ia tidak marah, karena tidak boleh ada yang tahu kisah yang sebenarnya. Sementara itu, ayah Sukresh sedih mendengar ejekan terhadap anaknya. Dan karena hasil penjualan kayu Sukresh hanya sedikit, keluarga mereka hidup miskin. Hingga suatu hari datanglah ke rumah reot mereka dua orang menunggangi kuda. Jubah mereka seperti yang dikenakan orang-orang kaya di sungai Indus. "Benarkah anda yang bernama tuan Sukresh?" tanya tamu itu penuh hormat saat melihat Sukresh. "Benar," jawab Sukresh. "Hamba diutus tuanku Raja untuk menyampaikan dua pesan. Pesan pertama, perjanjian antara tuan Sukresh dan tuanku Raja telah berakhir. Pesan kedua, apa yang saya bawa adalah milik tuan semuanya. Itu adalah hasil keikhlasan dan pengorbanan tuan selama bertahun-tahun dalam mencintai ayah Tuan," ujar tamu itu sambil menunjukkan barisan gerobak berderet-deret berisi kayu bakar. Sukresh terkesima. Bukankah itu hasil pekerjaannya selama ini. Sukresh ingat bagaimana cara dia memotong kayu-kayu itu. "Apakah semua ini untuk saya…" tanya Sukresh terheran-heran kepada tamunya. Namun ketika Sukresh menoleh, tamu itu telah pergi. Tinggallah Sukresh dan kedua orang tuanya yang masih kebingungan. Sejak saat itu Sukresh menjadi orang kaya di desanya. Dialah raja kayu yang memiliki gudang-gudang berisi kayu bakar terbesar siap untuk dikirim ke seluruh pelosok negeri. (Dongeng ketiga dari Kumpulan Dongeng Kotak Kayu Hitam)

GEMBALA SANG RAJA
Oleh: Ny. Widya Suwarna (Bobo No. 48/XXVII)
Raja Yosia memiliki 100 ekor domba pilihan. Bulunya putih bagaikan salju, muda, sehat, dan bersih. Pada waktu-waktu tertentu, 100 ekor domba itu dipersembahkan sebagai kurban untuk Tuhan. Kemudian sang gembala, Pak Kaleb, menyiapkan lagi 100 ekor domba pilihan. Ia memberi mereka makan rumput yang hijau segar. Dan membawa mereka minum ke air danau yang tenang. Juga menjaganya bila ada serigala menyerang. Namun, sekarang Pak Kaleb sudah tua. Ia harus diganti dengan seorang gembala muda yang tangkas dan kuat. "Pak Kaleb, kau pilihlah dulu tiga gembala muda calon penggantimu. Berikutnya aku yang akan menguji, untuk menentukan siapa yang pantas menggantikanmu!" titah Raja. Pak Kaleb segera melaksanakan perintah raja. Ternyata cukup banyak peminat. Rakyat negeri itu tahu, bekerja bagi Raja adalah kesempatan istimewa. Gajinya besar dan merupakan suatu kehormatan. Pak Kaleb menguji pengetahuan para calon penggantinya. Ia bertanya tentang cara menyisir bulu domba, ciri-ciri domba sakit, cara mengobati domba sakit, cara melawan serigala, kemahiran menggunakan tongkat gembala dan sebagainya. Akhirnya didapat tiga calon; Yunus, Obaja, dan Daud. Ketiganya masih muda, kuat, gagah, dan pandai. Kaleb segera menghadap Raja untuk melapor. "Bagus, Pak Kaleb. Besok suruh mereka menghadap aku di halaman belakang istana. Dan tolong sembunyikan seekor domba dari yang 100 ekor itu. Tukar dengan kambing hitam!" kata Raja. "Baik, Baginda. Segera hamba laksanakan!" kata Kaleb. Namun dalam hatinya ia heran. Mengapa seekor domba harus ditukar dengan kambing hitam? Esok harinya Baginda pergi ke halaman belakang istana. Tiga gembala muda sudah menunggu dengan tongkat masing-masing. Domba-domba berkeliaran di rumput, ada yang duduk tenang, ada yang berjalan-jalan dan ada pula yang berlaga dengan kawannya. "Anak-anak muda, itulah 100 ekor domba pilihan yang akan dipercayakan pada salah seorang di antaramu. Coba perhatikan dan kemudian beri komentar kalian!" kata Raja. Ketiga calon gembala istana itu segera mendekati domba-domba. Setengah jam kemudian mereka kembali menghadap Raja. "Bagaimana komentar kalian?" tanya Raja. "Domba-domba itu memang domba pilihan. Tak ada cacat cela. Sungguh suatu kehormatan bila hamba dipercaya menggembalakan mereka!" kata Yunus. "Hamba pun berpendapat demikian. Merawat domba-domba untuk dipersembakan pada Tuhan sungguh merupakan anugerah!" kata Obaja. "Dan apa komentarmu?" tanya Raja pada Daud. "Jumlah domba hanya 99 ekor. Yang seekor kambing hitam, bukan domba. Dimanakah yang seekor lagi? Menurut Pak Kaleb, kami harus merawat 100 ekor domba pilihan!" kata Daud. Raja mengangguk-angguk. "Ya, ya. Kalau begitu, biar Pak Kaleb mencari yang seekor lagi. Besok kalian datanglah lagi untuk diuji!" kata Raja. Sesudah tiga calon gembala pergi, Raja berkata pada Pak Kaleb, "Tukarlah kambing hitam itu dengan domba yang luka!" "Baik, Baginda!" jawab Pak Kaleb dengan hormat. Keesokan harinya ketiga gembala muda itu datang lagi. Raja meminta mereka memeriksa 100 domba-domba itu dan memberikan komentarnya. "Bagaimana sekarang? Jumlahnya 100 ekor?" tanya Raja. "Ya, Tuanku. Jumlahnya 100 ekor domba pilihan. Kemarin hamba tidak menghitungnya!" kata Yunus. "Benar, Baginda, hari ini dombanya lengkap 100 ekor!" jawab Obaja. "Maaf, Baginda. Tadi saat hamba sisir bulu domba-domba itu, ternyata ada seekor yang terluka. Lihatlah! Ini perlu diobati!" ujar Daud sambil membawa seekor domba dan menunjukan bagian yang terluka. "Baiklah, Pak Kaleb akan obati. Besok ujian terakhir. Jadi, datanglah sekali lagi!" kata Raja. Kemudian Raja menyuruh Pak Kaleb menukar domba yang luka dengan domba yang sehat sempurna. Esok harinya, ketiga gembala itu datang lagi. Raja meminta mereka memeriksa domba-domba itu dan kemudian menghadap. Kali ini Yunus dan Obaja memeriksa domba-domba itu dengan teliti. Ketika menghadap, Yunus berkata, "Hamba lihat ada 100 ekor domba sehat, Baginda!" "Benar! 100 ekor domba pilihan yang sehat!" kata Obaja. "Jumlah domba memang 100 ekor, tapi hamba tidak lihat domba yang terluka kemarin. Dimanakah dia? Apakah lukanya sudah membaik?" tanya Daud. Raja tersenyum senang dan mengangguk-angguk. "Kalian bertiga gembala-gembala muda yang tangkas. Namun, aku harus memilih satu. Dan pilihanku jatuh pada Daud. Ia pantas menjadi gembala istana. Ia teliti menghitung domba-domba yang akan dipercayakan padanya. Ia memeriksa kesehatan domba dengan teliti. Dan mengenal domba-domba itu dengan baik. Ia tahu bahwa domba yang terluka itu tak ada, walau jumlah seluruh domba tetap 100 ekor!" kata Raja. Maka Daud pun diangkat menjadi gembala sang Raja.

Khotbah Jumat

Manusia adalah makhluk ALLOH SWT yg terbaik susunan jasmani dan rohaninya. Dengan panca indra dan akal, hati dan nafsu, maka manusia menjadi makhluk yang berperadaban. Dengan akal pikirannya, mansia semakin lama semakin maju dalam banyak hal, terutama karena bisa membedakan yg haq dan batil, yg membahagiakan dan yg merusak.
Puasa merupakan salah satu cara untuk menempa manusia agar menjadi makhluk yang cenderung kepada haq dan menghindari hal2 yg batil.
Namun, manusia toh tidak terlepas dari hal-hal buruk. Seringkali kita dapati banyak manusia yg melakukan kejahatan/keburukan. Padahal, semakin banyak org yg berbuat baik, maka semakin berbahagialah masyarakat tersebut. Dan sebaliknya, jika banyak yg berbuat keburukan, maka masyarakat tersebut akan semakin resah.
Antara perbuatan positif dan negatif, mana yg lebih cenderung dilakukan manusia? ALLOH SWT telah berfirman dalam Ar Ruum(30):41,”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“
Adalah sunnatullah, orang yg berbuat baik akan menerima kebaikan dan orang yg berbuat jahat maka akan mendapatkan keburukan. Kita bisa baca di surat Al Zalzalah(99):7-8,”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. — Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.“
Dengan membaca ayat di atas, kita akan mengetahui bahwa hidup di dunia sifatnya hanya sementara, dan bukan satu-satunya kehidupan yg akan dialami oleh manusia.
Iman kepada ALLOH SWT akan membuat seseorang berbuat kebaikan dan menghindari kejahatan/keburukan.
Urusan ibadah tidak bisa dikarang atau sembarangan. Mesti mencontoh sesuai dengan yang dicontohkan Rasululloh SAW. Ibadah yang tidak dicontohkan akan termasuk dalam kategori bid’ah.
Sudah 17 hari sejak kita tinggalkan waktu training, yakni bulan Ramadhan. Tujuan takwa yg dituju oleh banyak orang, tidaklah mudah untuk dilaksanakan dan dicapai. Banyak halangan dan rintangan yang menghadang. Oleh karena itu, kita mesti bisa memelihara takwa itu dalam sisa 11 bulan ke depan.
Surat Ali Imran(3):133&134,”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, — (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.“
Untuk menebus kesalahan, maka kita bisa lakukan menuntut ilmu (ibadah). Ibadah ritual, sebagaimana ditulis di atas, mestilah sesuai dengan contoh Rasululloh SAW. Menuntut ilmu harus dilakukan oleh semua muslim, tidak dibatasi oleh usia, daerah atau apapun.
Surga merupakan impian bagi banyak orang. Namun, surga hanya bisa didapat/diraih jika kita mendapatkan ampunan dan rahmat dari ALLOH SWT. Bisa juga dikatakan, surga hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.
Orang yg bertakwa:1. Berinfaq di kala lapang maupun sempit (terutama terkait dengan rejeki/materi).2. Menahan amarah/emosi untuk hal-hal yg tidak dibenarkan oleh ALLOH SWT.3. Selalu memaafkan kesalahan orang lain. Tidak ada dendam.
Ketakwaan seseorang bisa dilihat dari ketaatan dia melakukan perintah-perintah ALLOH SWT dan menjauhi larangan2-Nya.
Seorang muslim dan mukmin, mestinya tidak ceroboh, tidak melanggar ketentuan ALLOH SWT serta senantiasa bersyukur. Ramadhan yang baru meninggalkan kita, hendaknya jadi momen untuk menuju tingkatan yang lebih baik.
Rasa syukur mestinya kita lakukan tiap saat, sebagai bukti bahwa kita tidak kufur nikmat. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan anggota tubuh untuk mencapai ridho-Nya.
Banyak amalan yang bisa dilakukan di bulan Syawal, antara lain puasa Syawal. Barangsiapa puasa di bulan Syawal selama 6 hari, insya ALLOH akan mendapat pahala seolah-olah puasa 1 tahun. Silakan baca di artikel puasa Syawal ini.
Sebaik-baik waktu adalah waktu yang selalu ingat kepada ALLOH SWT. Dan seburuk-buruknya waktu adalah waktu di saat kita lalai pada-Nya.

cerpen

Darma Dan Zainal
Oleh: Hotma Dete (Bobo No. 28/XXX)
Darma gembira ketika Ayah mengajaknya liburan ke kota Medan. Ini hadiah untuk Darma karena ia naik ke kelas empat. Rumah paman Darma terletak di Padang Bulan. Dekat sebuah sungai. Setiap sore Darma pergi ke sungai itu dan bermain dengan Zainal, Andir dan Pipiet, tetangga sebelah. Ada satu lagi yang membuat Padang Bulan berbeda dengan Pakkat, desa Darma. Di Pakkat, Darma cuma bisa melihat pesawat di langit yang tinggi. Besarnya cuma sepenggaris ukuran 30 cm. Sedangkan di rumah pamannya ini, jangan ditanya! Pesawat terbang yang melintas di atas Padang Bulan, tampak sebesar mobil angkutan kota di atas kepala. Setiap 10 menit dari pagi sampai magrib, terdengar deru pesawat terbang yang melintas di atas rumah-rumah. Baik ketika pesawat itu mendarat atau ketika akan lepas landas. Hal itu membuat Darma ingin melihat pesawat terbang lebih dekat lagi. Bahkan ingin memegang pesawat itu kalau bisa. Menurut penduduk setempat, Bandara Udara Polonia itu dekat. Jalan kaki saja sudah sampai. Suatu ketika, Darma dan Zainal sepakat ingin melihat pesawat terbang dari dekat. Sebetulnya mereka juga mengajak anak-anak lain. Tetapi mereka tidak mau. Kedua anak ini pun pergi tanpa pamit kepada orangtua mereka. Mereka melangkah terus menyusuri kampung-kampung. Akhirnya di depan mata mereka tampak terhampar sebagian kecil dari landasan pesawat udara. Di kejauhan tampak juga tulisan Polonia. Betapa gembira hati Darma dan Zainal. Ada beberapa pesawat sedang parkir di situ. Sesaat kemudian sebuah pesawat dari atas mulai turun dan siap menyentuh landasan. Akhirnya roda pesawat itu menyentuh aspal hitam dan mengeluarkan suara ngiuk-ngiuk. Lalu pesawat itu berjalan seperti sebuah mobil. Saking semangatnya ingin melihat pesawat lebih dekat, mereka menerobos pagar besi yang keropos. Mereka melangkahi rumput-rumput yang jaraknya cuma dua puluh meter dari landasan pesawat. Ketika sedang terpesona, seorang kakek penyabit rumput menegur mereka. "Nak, mau ke mana kalian?" "Mau melihat pesawat, Kek. Kami orang desa, Kek. Sedang libur sekolah," kata Darma terus terang. "Kalau mau lihat pesawat, dari sini saja. Tak usah ke dalam landasan. Setiap saat ada pesawat yang naik dan turun. Berbahaya kalau terlalu dekat," kata si kakek sambil memasukkan rumput ke dalam karung goni. Rupanya Darma dan Zainal tidak puas hanya melihat dari kejauhan. Mereka terus berjalan menyusuri landasan. Mereka ingin melihat dari dekat pesawat yang baru mendarat. Mereka tidak peduli peringatan si Kakek. Tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju kencang ke arah mereka. Mereka petugas keamanan bandara. Di leher salah satu dari mereka tergantung teropong. Pria yang dibonceng mengepal tinjunya seolah-olah mengancam Darma dan Zainal. Melihat sikap petugas itu, kedua anak itu segera berlari. "Hei, mau ke mana kalian? Jangan masuk ke landasan," larang mereka. Darma dan Zainal tidak menjawab. Malah berlari semakin kencang. Kedua petugas itu terus mengejar mereka dengan sepeda motor. Darma dan Zainal akhirnya tidak mampu lagi berlari. Petugas yang dibonceng pun segera turun. Badannya gemuk. Tangannya langsung memegang kerah baju Darma. "Kamu nakal ya. Diperingatkan, malah lari. Mau apa di sini? Mau curi kebel ya?" "Bukan Pak. Bukan," teriak Darma. "Sini kalian berdua," kata petugas satunya lagi yang bertubuh kekar. "Kalian tahu, ini landasan pesawat udara! Tidak boleh sembarangan masuk ke sini. Kalian bisa tertabrak pesawat!" Darma dan Zainal diam ketakutan. "Pak Gendut, kita apakan kedua anak ini?" tanya lelaki kekar itu pada temannya. "Kita tahan saja dulu. Lalu rendam kepala mereka di air es selama satu jam. Biar mereka jera," jawab petugas gemuk itu. "Ampun Pak. Maafkan kami. Kami datang ke sini hanya ingin melihat pesawat," kata Darma sambil menangis sejadi-jadinya. "Maaf Pak. Kami memang hanya ingin lihat pesawat," kata Zainal pula. Tangannya menyembah-nyembah kedua petugas itu. Dia juga menangis. Rupanya sejak tadi, Kakek penyabit rumput itu sudah memperhatikan kelakuan mereka. Ia berlari-lari menemui kedua petugas itu. Pak Gendut pun menerangkan pada kakek itu tentang apa yang terjadi. Si Kakek berusaha membela Darma dan Zainal. "Sekarang, jawab yang jujur! Apa betul kalian ke sini cuma ingin melihat pesawat? Jangan bohong!" tanya Pak Gendut dengan suara keras. "Benar, Pak. Kami ini anak desa. Di desa, kami tidak pernah melihat pesawat sebesar yang kami lihat tadi, Pak," ujar Darma masih terisak. "Kalian punya kartu pelajar?" Darma dan Zainal mengeluarkan kartu pelajar dan memberikannya kepada Pak Gendut. Kedua petugas itu memeriksa dengan teliti. Mereka akhirnya mengangguk-angguk percaya. "Pak Gendut, sebaiknya kedua anak ini dipulangkan saja. Mereka ini anak desa yang belum pernah melihat pesawat terbang dari dekat. Mereka hanya terpesona. Dan karena teledor, mereka masuk ke daerah ini," saran si kakek. Pak Gendut mengangguk-angguk. "Kalian ini terlalu berani. Kalau mau lihat pesawat, datang saja ke Bandara Polonia. Di sana kita boleh lihat pesawat terbang di depan mata kita. Jadi bukan dari pinggir landasan sini. Berbahaya," kata Pak Gendut. "Kami mengerti, Pak. Maafkan kami," kata Darma sambil menyalami kedua petugas ini dan sang kakek. Zainal juga melakukan hal yang sama. "Pesan Kakek, rajin-rajinlah kalian belajar. Siapa tahu nanti menjadi pilot. Bisa melihat pesawat dari dekat setiap hari," pesan si kakek sambil tersenyum. Darma dan Zainal mengangguk mantap. Ya, untunglah kakek penyabit rumput itu membela mereka. Untung pula mereka membawa kartu pelajar. Kalau tidak, tidak tahulah apa yang akan terjadi.


APA KABAR, BO?
Oleh Marina Wiseno. (Bobo No. 51/XXV)
Bel pulang pun berbunyi, anak-anak kelas VI-b segera menyiapkan alat-alat tulis untuk dimasukkan ke dalam tas. Sandra si ketua kelas segera memimpin doa.Selamat siang Bu! Serempak seluruh isi kelas mengucapkan salam sebelum keluar dari pintu kelas.
"Kita jadi kan ke kantor pos sekarang?" tanyaku mencegat langkah Lusi."Iya, masak diundur-undur lagi. Nanti kapan dimuatnya," jawab Lusi.Aku mengangguk. "Boleh aku baca suratmu?" pintaku."Wah, sudah aku lem di rumah tadi. Tapi isinya seperti yang kukatakan kemarin kok. Cuma tanya bagaimana caranya menghadapi teman sebangku yang cerewet seperti kamu.""Enak saja. Memangnya aku nenek-nenek dibilang cerewet. Huh mudah-mudahan saja suratmu tidak dimuat!" ujarku sewot. Kulihat Lusi hanya tertawa kecil.Kalau suratmu isinya apa Put? Tanya Lusi."Surat biasa saja. Aku cuma minta dikenalkan pada semua pembaca Bobo. Biar aku dapat sahabat pena yang banyak."Kamu serius akan membalas surat-surat yang datang nanti?" selidik Lusi."Kalau aku tidak repot, ya aku balas. Lagipula tujuan utamaku bukan itu. Aku ingin namaku dimuat di majalah. Biar top!""Dasar kamu!" sungut Lusi.
Aku cuma tertawa mendengar nada suaranya yang kelihatan kesal. Sambil menuju ke kantor pos yang letaknya tidak begitu jauh dari sekolahku, kami bercanda-canda. Sampai di kantor pos aku segera menuju loket penjualan. Lusi sudah menitipkan prangkonya kepadaku. Akhirnya aku mendapatkan prangkoku."Ini prangkomu," aku menyodorkan prangko bernilai tiga ratus kepada Lusi. Lusi menerima prangko dariku.Aku mengambil surat yang sudah kusiapkan sejak semalam. Kutulis di amplop surat itu: Kepada Yth. Redaksi Bobo, Jl. Palmerah Selatan 22 Jakarta 10270. Di sudut kiri amplop kutulis 'Apa Kabar Bo'. Suratku ini memang kutujukan untuk dimuat di halaman 'Apa Kabar Bo' di majalah kesayanganku. Setelah menempelkan prangko di sudut kanan amplop aku menghampiri Lusi.Kami segera memasukkan surat kami ke kotak surat yang sudah disediakan."Rasa-rasanya suratku dimuat duluan," gumamku agak keras."Huh!" Lusi memaki sambil menarik rambut kuncirku.
Seminggu, dua minggu, ya, hampir tiap kedatangan majalah BOBO perasaanku tidak karuan menunggu suratku dimuat. Sampai akhirnya tiga bulan lebih, aku jadi bosan. Suratku maupun surat Lusi tidak pernah ada di halaman 'Apa Kabar Bo'. Aku sudah melupakan sama sekali tentang surat itu ketika pagi di hari Kamis Lusi berteriak menghampiriku."Eh, ada apa? Seperti orang kesurupan. Ini kan kelas, bukan di lapangan!" tegurku terkejut."Lihat ini!" Lusi menunjukkan majalah Bobo terbaru di tangannya. Aku belum sempat membaca majalah itu Bobo baruku datang ketika aku keluar rumah. "Surat yang waktu itu kukirim dimuat, Put!"Aku melihat lembaran 'Apa Kabar Bo' yang ditunjukkan Lusi. Benar saja, di sana ada surat yang ditulisnya. Malah ada gambar lucu yang melukiskan gambar orang yang sedang cerewet."Nah, ini pasti gambar kamu!" seru Lusi lagi.Aku menggigit bibirku. Ada rasa tidak suka di hatiku melihat majalah itu. Apalagi, yang dimuat hanya surat Lusi. Aku memaksakan diri tertawa ketika kulihat Lusi tertawa sambil membacakan jawaban yang diberikan Bobo."Kalau temanmu cerewet, plester saja bibirnya!" seru Lusi lantang diiringi tawa nyaring.
Aku terus menutupi perasaan kesalku selama di kelas. Namun begitu aku tiba di rumah aku langsung meraih majalah baruku dan merobek halaman yang memuat surat Lusi. Memangnya suratku kenapa? Apa tulisannya jelek? Rasanya tidak, tulisanku bagus kok. Atau memang Bobo pilih kasih. Wah, kalau begitu curang.Aku segera mengambil kertas surat."Bobo yang curang,Putri mau protes sama kamu. Kenapa surat Putri tidak dimuat, sedangkan surat teman Putri dimuat? Bobo pilih kasih! Padahal Putri cuma ingin dikenalkan kepada pembaca Bobo. Apa susahnya memuat surat Putri? Pokoknya kalau surat Putri tidak dimuat dalam waktu sebulan ini, Putri mau berhenti langganan Bobo!Sudah dulu ya!Putri"Kubaca ulang surat yang baru kutulis itu.
"Putri!" terdengar suara Bang Igor memanggil. "Pulang sekolah bukan cepat makan dulu!""Iya, sebentar! Cerewet!" aku mengomel pada abangku. Ah, dia sendiri masih memakai seragam putih birunya. Belum tukar pakaian.Kulewati begitu saja Bang Igor yang tengah berdiri di depan pintu aku tidak mau lagi mendengar ocehannya.Tiga hari setelah aku mengirim surat protesku kepada Bobo (sebenarnya sih bukan aku yang memposkannya, sewaktu lusa kemarin di meja belajarku surat itu sudah tidak ada. Mungkin ibu yang mengirim, tapi aku tidak tanya-tanya lagi) aku dikejutkan oleh sepucuk surat yang tergeletak di meja belajarku. Buru-buru kubaca surat itu.
"Putri yang sedang ngambekBobo minta maaf karena suratmu tidak dapat dimuat. Sebab Bobo mendahulukan surat yang benar-benar membutuhkan jawaban. Kalau Putri ingin dapat sahabat pena, kenapa bukan Putri saja yang mengirim surat terlebih dahulu kepada mereka? Putri dapat melihat alamat mereka di kolom 'Apa Kabar Bo' atau 'Arena Kecil & Tak Disangka'. Kalau ingin nama Putri dimuat kirim hasil karyamu yang lain, bukankah Putri suka membuat puisi?Putri jangan terus-terusan mengambek, kasihan masa Bang Igor dicemberutin terus. Juga jangan berhenti langganan Bobo. Nanti kamu tak bisa ketawa melihat Pak Brongsong terkena sihirannya sendiri.Salam Manis, BOBO
Kubaca ulang surat itu. Terasa isi surat itu menyadarkan aku dari kekeliruanku selama ini. Tetapi, bagaimana Bobo tahu aku suka mencemberuti Bang Igor ataupun suka dengan cerita pak Brongsong?Otakku berputar, aha akhirnya aku tahu, pasti Bang Igor telah membaca surat protesku yang kutulis siang itu. Dan pasti surat protesku tidak dikirim melainkan 'hilang' di tangan Bang Igor. Lalu bang Igor membuat surat ini."Bang Igor!!!" aku berteriak kencang sambil keluar kamar menuju kamar Bang Igor. Bukan, bukan aku ingin memarahi abangku, tetapi ingin memberinya ucapan terima kasih serta senyuman sebagai ganti kecemberutanku di hari-hari kemarin.



B A R T E R
Oleh Wahyu Noor S (Bobo No. 37/XXVII)
Selesai sudah Emi menyapu lantai rumah. Di luar, Dian telah menunggu untuk jajan miso di tempat Pak Saerah.“Yo’ik… yo ‘ik…” seru Emi riang sembari berlari menuruni anak tangga teras.“Lari-lari, nanti jatuh lo,” Dian tersenyum dari atas kursi rodanya.Ya, ia murid SLB bagian D. Rumah Pak Saerah berada di depan kompleks SLB. Gerobak miso sudah siap di serambi. Mie dan bulatan-bulatan bakso nampak menggunung di dalamnya. Ini sudah jam 4 sore. Pak Saerah tentu akan segera membawanya ke terminal dan pulang malam-malam. Makanya harus buru-buru bila ingin membeli.Siti, anak Pak Saerah, tengah mengupas bawang merah di balai-balai. Melihat Emi dan Dian datang ia menyapa ramah, “Emi, Dian… Mau beli miso, ya? Belum matang nih.”“Lo, tumben?” ujar Emi dan Dian berbarengan.“Ibu lagi sakit. Sekarang Bapak mau mengantarnya ke dokter Isnan. “ Selesai Emi bicara Pak Saerah nampak keluar menuntun sepeda.“Mau beli miso, ya?” Pak Saerah memandang Emi dan Dian. “Tunggu sebentar ya! Siti akan segera membumbui kuahnya dan menggoreng bawang merah,” lanjutnya ramah.Siti bangkit berdiri sembari mengibaskan roknya. Bawang merah yang selesai dikupas berada dalam panci yang dipenuhi air. Siti pernah bilang bila direndam demikian, tak akan pedih di mata ketika diiris nanti.Emi memapah Dian turun dan duduk di balai-balai. Sementara Siti dan Pak Saerah masuk ke dalam rumah. Ada dua pisau di situ, Emi dan Dian meraihnya satu-satu. Siti nampaknya juga sudah siap dengan talenan dan baki. Emi dan Dian mengiris bawang merah di hadapannya tanpa diminta.Tak berapa lama kemudian, Pak Saerah dan Siti nampak ke luar memapah Bu Saerah. Menuju ke sepeda di depan serambi. Tapi begitu Bu Saerah duduk di boncengan, tubuhnya terkulai. Ia kelihatan lemah sekali.“Aku tak kuat kalau harus bonceng sepeda, Pak,” desis Bu Saerah lirih.“Baiklah aku akan memanggil becak. Ayo masuk lagi,” kata Pak Saerah.“Mengapa mesti memanggil becak, Pak? Antarlah Bu Saerah ke dokter dengan kursi rodaku,” cetus Dian tiba-tiba.Gerakan Pak Saerah dan Siti terhenti. Ditolehnya Dian. Dian mengangguk meyakinkan. Emi bergegas mendorong kursi roda ke dekat mereka.“Aaah… kalau begitu… terima kasih banyak,” kata Pak Saerah setelah sesaat terpana. Rasa gembira dan haru berbaur menjadi satu.Nah, Bu Saerah telah duduk manis di atas kursi roda. Pak Saerah mendorongnya ke luar halaman, menyusur sepanjang tepi jalan, menuju tempat praktek dokter Isnan. Siti berdiri mengawasi dari tepi serambi, hingga Bapak-ibunya menikung jalan dan hilang dari pandangan.“Kalian jadi ikut repot,” Siti menoleh pada Dian dan Emi yang tengah sibuk mengiris bawang merah.“Ah, tidak,” sergah Emi dan Dian tulus. “Bawang merahnya tidak pedih di mata, lo,” sambung Emi. “He-eh,” Dian mengiyakan.Siti tersenyum sembari melangkah ke dalam rumah. Ketika ke luar lagi, ia nampak membawa sebuah piring kecil berisi ulekan bumbu miso. Bumbu itu dimasukkannya ke dalam panci kuah yang berada di bagian belakang gerobak. Begitu tutup panci dibuka, wusss… kepul-kepul asap panas mengudara dari dalamnya. Sesudah itu, Siti masuk ke dalam rumah lagi, dan beberapa saat kemudian ke luar lagi. Begitu berulang-ulang. Ia sungguh sibuk. Membuat sambal, membuat acar mentimun, mengiris daun seledri, mencuci daun selada, dan entah apa lagi. Yang pasti ia terampil sekali.“Nah, bawang merah sudah selesai diiris nih, Ti,” kata Emi saat Siti memasukkan setumpukkan mangkuk ke dalam laci gerobak.“Terima kasih.” Siti bergegas melangkah ke dalam rumah, membawa irisan bawang merah yang menggunung dalam baki itu untuk di goreng. Sementara Emi dan Dian tiduran di balai-balai sambil bercakap.Beberapa menit berlalu. Beres sudah semua. Siti berseri-seri, ia siap melayani Dian dan Emi. Dalam meracik miso mangkuk pun Siti sudah ahi.“Wah, rasanya tidak beda dengan buatan Bu Saerah atau Pak Saerah.” Emi berkomentar lalu mulutnya berdecap-decap tiada henti.“Iya ya, Siti pasti jadi juragan nanti,” gurau Dian. Emi dan Siti tertawa mendengarnya.Emi dan Dian baru selesai makan miso, ketika Pak Saerah dan Bu Saerah datang. Di dalam hati mereka berdoa agar Bu Saerah cepat sembuh. Siti dan Pak Saerah memapah Bu Saerah masuk ke dalam rumah. Emi mendorong kursi roda tadi ke dekat balai-balai. Dibantunya Dian duduk ke atasnya. Tak lama kemudian Pak Saerah keluar. Di lehernya terkalung handuk putih berukuran kecil. Artinya ia sudah siap untuk pergi ke terminal. Emi segera menyodorkan tiga lembar uang lima ratusan padanya. Itu uang miso Dian dan dirinya. Tapi Pak Saerah malah tertawa.“Wah, jadi berapa rupiah aku harus membayar sewa kursi roda dan rasa capek kalian mengiris bawang merah?” ujar Pak Saerah jenaka sembari menolak uang yang Emi sodorkan.Emi dan Dian terkesiap. Mereka berpandangan.“Kali ini kalian tak usah bayar. Kita barter saja, ya?” nada suara Pak Saerah masih saja jenaka. Lalu mendorong gerobak misonya turun ke halaman.“Terima kasih, Pak,” seru Emi setelah sesaat terpana.“Aku juga terima kasih Pak,” Dian menirukan.Pak Saerah yang telah sampai di tengah halaman menoleh sekilas sambil tersenyum manis. “Sama-sama!” katanya.“Terima kasih untuk semuanya Emi, Dian…,” gantian Siti kini yang bicara. Tiba-tiba ia sudah berada di mulut pintu.“Sama-sama,” Emi dan Dian menjawab berbarengan. Lantas keduanya berpamitan pulang. Pulang dengan perasaan lapang.***