BLOGGER TEMPLATES AND Gaia Layouts »

Jumat, 08 Mei 2009

cerpen

Darma Dan Zainal
Oleh: Hotma Dete (Bobo No. 28/XXX)
Darma gembira ketika Ayah mengajaknya liburan ke kota Medan. Ini hadiah untuk Darma karena ia naik ke kelas empat. Rumah paman Darma terletak di Padang Bulan. Dekat sebuah sungai. Setiap sore Darma pergi ke sungai itu dan bermain dengan Zainal, Andir dan Pipiet, tetangga sebelah. Ada satu lagi yang membuat Padang Bulan berbeda dengan Pakkat, desa Darma. Di Pakkat, Darma cuma bisa melihat pesawat di langit yang tinggi. Besarnya cuma sepenggaris ukuran 30 cm. Sedangkan di rumah pamannya ini, jangan ditanya! Pesawat terbang yang melintas di atas Padang Bulan, tampak sebesar mobil angkutan kota di atas kepala. Setiap 10 menit dari pagi sampai magrib, terdengar deru pesawat terbang yang melintas di atas rumah-rumah. Baik ketika pesawat itu mendarat atau ketika akan lepas landas. Hal itu membuat Darma ingin melihat pesawat terbang lebih dekat lagi. Bahkan ingin memegang pesawat itu kalau bisa. Menurut penduduk setempat, Bandara Udara Polonia itu dekat. Jalan kaki saja sudah sampai. Suatu ketika, Darma dan Zainal sepakat ingin melihat pesawat terbang dari dekat. Sebetulnya mereka juga mengajak anak-anak lain. Tetapi mereka tidak mau. Kedua anak ini pun pergi tanpa pamit kepada orangtua mereka. Mereka melangkah terus menyusuri kampung-kampung. Akhirnya di depan mata mereka tampak terhampar sebagian kecil dari landasan pesawat udara. Di kejauhan tampak juga tulisan Polonia. Betapa gembira hati Darma dan Zainal. Ada beberapa pesawat sedang parkir di situ. Sesaat kemudian sebuah pesawat dari atas mulai turun dan siap menyentuh landasan. Akhirnya roda pesawat itu menyentuh aspal hitam dan mengeluarkan suara ngiuk-ngiuk. Lalu pesawat itu berjalan seperti sebuah mobil. Saking semangatnya ingin melihat pesawat lebih dekat, mereka menerobos pagar besi yang keropos. Mereka melangkahi rumput-rumput yang jaraknya cuma dua puluh meter dari landasan pesawat. Ketika sedang terpesona, seorang kakek penyabit rumput menegur mereka. "Nak, mau ke mana kalian?" "Mau melihat pesawat, Kek. Kami orang desa, Kek. Sedang libur sekolah," kata Darma terus terang. "Kalau mau lihat pesawat, dari sini saja. Tak usah ke dalam landasan. Setiap saat ada pesawat yang naik dan turun. Berbahaya kalau terlalu dekat," kata si kakek sambil memasukkan rumput ke dalam karung goni. Rupanya Darma dan Zainal tidak puas hanya melihat dari kejauhan. Mereka terus berjalan menyusuri landasan. Mereka ingin melihat dari dekat pesawat yang baru mendarat. Mereka tidak peduli peringatan si Kakek. Tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju kencang ke arah mereka. Mereka petugas keamanan bandara. Di leher salah satu dari mereka tergantung teropong. Pria yang dibonceng mengepal tinjunya seolah-olah mengancam Darma dan Zainal. Melihat sikap petugas itu, kedua anak itu segera berlari. "Hei, mau ke mana kalian? Jangan masuk ke landasan," larang mereka. Darma dan Zainal tidak menjawab. Malah berlari semakin kencang. Kedua petugas itu terus mengejar mereka dengan sepeda motor. Darma dan Zainal akhirnya tidak mampu lagi berlari. Petugas yang dibonceng pun segera turun. Badannya gemuk. Tangannya langsung memegang kerah baju Darma. "Kamu nakal ya. Diperingatkan, malah lari. Mau apa di sini? Mau curi kebel ya?" "Bukan Pak. Bukan," teriak Darma. "Sini kalian berdua," kata petugas satunya lagi yang bertubuh kekar. "Kalian tahu, ini landasan pesawat udara! Tidak boleh sembarangan masuk ke sini. Kalian bisa tertabrak pesawat!" Darma dan Zainal diam ketakutan. "Pak Gendut, kita apakan kedua anak ini?" tanya lelaki kekar itu pada temannya. "Kita tahan saja dulu. Lalu rendam kepala mereka di air es selama satu jam. Biar mereka jera," jawab petugas gemuk itu. "Ampun Pak. Maafkan kami. Kami datang ke sini hanya ingin melihat pesawat," kata Darma sambil menangis sejadi-jadinya. "Maaf Pak. Kami memang hanya ingin lihat pesawat," kata Zainal pula. Tangannya menyembah-nyembah kedua petugas itu. Dia juga menangis. Rupanya sejak tadi, Kakek penyabit rumput itu sudah memperhatikan kelakuan mereka. Ia berlari-lari menemui kedua petugas itu. Pak Gendut pun menerangkan pada kakek itu tentang apa yang terjadi. Si Kakek berusaha membela Darma dan Zainal. "Sekarang, jawab yang jujur! Apa betul kalian ke sini cuma ingin melihat pesawat? Jangan bohong!" tanya Pak Gendut dengan suara keras. "Benar, Pak. Kami ini anak desa. Di desa, kami tidak pernah melihat pesawat sebesar yang kami lihat tadi, Pak," ujar Darma masih terisak. "Kalian punya kartu pelajar?" Darma dan Zainal mengeluarkan kartu pelajar dan memberikannya kepada Pak Gendut. Kedua petugas itu memeriksa dengan teliti. Mereka akhirnya mengangguk-angguk percaya. "Pak Gendut, sebaiknya kedua anak ini dipulangkan saja. Mereka ini anak desa yang belum pernah melihat pesawat terbang dari dekat. Mereka hanya terpesona. Dan karena teledor, mereka masuk ke daerah ini," saran si kakek. Pak Gendut mengangguk-angguk. "Kalian ini terlalu berani. Kalau mau lihat pesawat, datang saja ke Bandara Polonia. Di sana kita boleh lihat pesawat terbang di depan mata kita. Jadi bukan dari pinggir landasan sini. Berbahaya," kata Pak Gendut. "Kami mengerti, Pak. Maafkan kami," kata Darma sambil menyalami kedua petugas ini dan sang kakek. Zainal juga melakukan hal yang sama. "Pesan Kakek, rajin-rajinlah kalian belajar. Siapa tahu nanti menjadi pilot. Bisa melihat pesawat dari dekat setiap hari," pesan si kakek sambil tersenyum. Darma dan Zainal mengangguk mantap. Ya, untunglah kakek penyabit rumput itu membela mereka. Untung pula mereka membawa kartu pelajar. Kalau tidak, tidak tahulah apa yang akan terjadi.


APA KABAR, BO?
Oleh Marina Wiseno. (Bobo No. 51/XXV)
Bel pulang pun berbunyi, anak-anak kelas VI-b segera menyiapkan alat-alat tulis untuk dimasukkan ke dalam tas. Sandra si ketua kelas segera memimpin doa.Selamat siang Bu! Serempak seluruh isi kelas mengucapkan salam sebelum keluar dari pintu kelas.
"Kita jadi kan ke kantor pos sekarang?" tanyaku mencegat langkah Lusi."Iya, masak diundur-undur lagi. Nanti kapan dimuatnya," jawab Lusi.Aku mengangguk. "Boleh aku baca suratmu?" pintaku."Wah, sudah aku lem di rumah tadi. Tapi isinya seperti yang kukatakan kemarin kok. Cuma tanya bagaimana caranya menghadapi teman sebangku yang cerewet seperti kamu.""Enak saja. Memangnya aku nenek-nenek dibilang cerewet. Huh mudah-mudahan saja suratmu tidak dimuat!" ujarku sewot. Kulihat Lusi hanya tertawa kecil.Kalau suratmu isinya apa Put? Tanya Lusi."Surat biasa saja. Aku cuma minta dikenalkan pada semua pembaca Bobo. Biar aku dapat sahabat pena yang banyak."Kamu serius akan membalas surat-surat yang datang nanti?" selidik Lusi."Kalau aku tidak repot, ya aku balas. Lagipula tujuan utamaku bukan itu. Aku ingin namaku dimuat di majalah. Biar top!""Dasar kamu!" sungut Lusi.
Aku cuma tertawa mendengar nada suaranya yang kelihatan kesal. Sambil menuju ke kantor pos yang letaknya tidak begitu jauh dari sekolahku, kami bercanda-canda. Sampai di kantor pos aku segera menuju loket penjualan. Lusi sudah menitipkan prangkonya kepadaku. Akhirnya aku mendapatkan prangkoku."Ini prangkomu," aku menyodorkan prangko bernilai tiga ratus kepada Lusi. Lusi menerima prangko dariku.Aku mengambil surat yang sudah kusiapkan sejak semalam. Kutulis di amplop surat itu: Kepada Yth. Redaksi Bobo, Jl. Palmerah Selatan 22 Jakarta 10270. Di sudut kiri amplop kutulis 'Apa Kabar Bo'. Suratku ini memang kutujukan untuk dimuat di halaman 'Apa Kabar Bo' di majalah kesayanganku. Setelah menempelkan prangko di sudut kanan amplop aku menghampiri Lusi.Kami segera memasukkan surat kami ke kotak surat yang sudah disediakan."Rasa-rasanya suratku dimuat duluan," gumamku agak keras."Huh!" Lusi memaki sambil menarik rambut kuncirku.
Seminggu, dua minggu, ya, hampir tiap kedatangan majalah BOBO perasaanku tidak karuan menunggu suratku dimuat. Sampai akhirnya tiga bulan lebih, aku jadi bosan. Suratku maupun surat Lusi tidak pernah ada di halaman 'Apa Kabar Bo'. Aku sudah melupakan sama sekali tentang surat itu ketika pagi di hari Kamis Lusi berteriak menghampiriku."Eh, ada apa? Seperti orang kesurupan. Ini kan kelas, bukan di lapangan!" tegurku terkejut."Lihat ini!" Lusi menunjukkan majalah Bobo terbaru di tangannya. Aku belum sempat membaca majalah itu Bobo baruku datang ketika aku keluar rumah. "Surat yang waktu itu kukirim dimuat, Put!"Aku melihat lembaran 'Apa Kabar Bo' yang ditunjukkan Lusi. Benar saja, di sana ada surat yang ditulisnya. Malah ada gambar lucu yang melukiskan gambar orang yang sedang cerewet."Nah, ini pasti gambar kamu!" seru Lusi lagi.Aku menggigit bibirku. Ada rasa tidak suka di hatiku melihat majalah itu. Apalagi, yang dimuat hanya surat Lusi. Aku memaksakan diri tertawa ketika kulihat Lusi tertawa sambil membacakan jawaban yang diberikan Bobo."Kalau temanmu cerewet, plester saja bibirnya!" seru Lusi lantang diiringi tawa nyaring.
Aku terus menutupi perasaan kesalku selama di kelas. Namun begitu aku tiba di rumah aku langsung meraih majalah baruku dan merobek halaman yang memuat surat Lusi. Memangnya suratku kenapa? Apa tulisannya jelek? Rasanya tidak, tulisanku bagus kok. Atau memang Bobo pilih kasih. Wah, kalau begitu curang.Aku segera mengambil kertas surat."Bobo yang curang,Putri mau protes sama kamu. Kenapa surat Putri tidak dimuat, sedangkan surat teman Putri dimuat? Bobo pilih kasih! Padahal Putri cuma ingin dikenalkan kepada pembaca Bobo. Apa susahnya memuat surat Putri? Pokoknya kalau surat Putri tidak dimuat dalam waktu sebulan ini, Putri mau berhenti langganan Bobo!Sudah dulu ya!Putri"Kubaca ulang surat yang baru kutulis itu.
"Putri!" terdengar suara Bang Igor memanggil. "Pulang sekolah bukan cepat makan dulu!""Iya, sebentar! Cerewet!" aku mengomel pada abangku. Ah, dia sendiri masih memakai seragam putih birunya. Belum tukar pakaian.Kulewati begitu saja Bang Igor yang tengah berdiri di depan pintu aku tidak mau lagi mendengar ocehannya.Tiga hari setelah aku mengirim surat protesku kepada Bobo (sebenarnya sih bukan aku yang memposkannya, sewaktu lusa kemarin di meja belajarku surat itu sudah tidak ada. Mungkin ibu yang mengirim, tapi aku tidak tanya-tanya lagi) aku dikejutkan oleh sepucuk surat yang tergeletak di meja belajarku. Buru-buru kubaca surat itu.
"Putri yang sedang ngambekBobo minta maaf karena suratmu tidak dapat dimuat. Sebab Bobo mendahulukan surat yang benar-benar membutuhkan jawaban. Kalau Putri ingin dapat sahabat pena, kenapa bukan Putri saja yang mengirim surat terlebih dahulu kepada mereka? Putri dapat melihat alamat mereka di kolom 'Apa Kabar Bo' atau 'Arena Kecil & Tak Disangka'. Kalau ingin nama Putri dimuat kirim hasil karyamu yang lain, bukankah Putri suka membuat puisi?Putri jangan terus-terusan mengambek, kasihan masa Bang Igor dicemberutin terus. Juga jangan berhenti langganan Bobo. Nanti kamu tak bisa ketawa melihat Pak Brongsong terkena sihirannya sendiri.Salam Manis, BOBO
Kubaca ulang surat itu. Terasa isi surat itu menyadarkan aku dari kekeliruanku selama ini. Tetapi, bagaimana Bobo tahu aku suka mencemberuti Bang Igor ataupun suka dengan cerita pak Brongsong?Otakku berputar, aha akhirnya aku tahu, pasti Bang Igor telah membaca surat protesku yang kutulis siang itu. Dan pasti surat protesku tidak dikirim melainkan 'hilang' di tangan Bang Igor. Lalu bang Igor membuat surat ini."Bang Igor!!!" aku berteriak kencang sambil keluar kamar menuju kamar Bang Igor. Bukan, bukan aku ingin memarahi abangku, tetapi ingin memberinya ucapan terima kasih serta senyuman sebagai ganti kecemberutanku di hari-hari kemarin.



B A R T E R
Oleh Wahyu Noor S (Bobo No. 37/XXVII)
Selesai sudah Emi menyapu lantai rumah. Di luar, Dian telah menunggu untuk jajan miso di tempat Pak Saerah.“Yo’ik… yo ‘ik…” seru Emi riang sembari berlari menuruni anak tangga teras.“Lari-lari, nanti jatuh lo,” Dian tersenyum dari atas kursi rodanya.Ya, ia murid SLB bagian D. Rumah Pak Saerah berada di depan kompleks SLB. Gerobak miso sudah siap di serambi. Mie dan bulatan-bulatan bakso nampak menggunung di dalamnya. Ini sudah jam 4 sore. Pak Saerah tentu akan segera membawanya ke terminal dan pulang malam-malam. Makanya harus buru-buru bila ingin membeli.Siti, anak Pak Saerah, tengah mengupas bawang merah di balai-balai. Melihat Emi dan Dian datang ia menyapa ramah, “Emi, Dian… Mau beli miso, ya? Belum matang nih.”“Lo, tumben?” ujar Emi dan Dian berbarengan.“Ibu lagi sakit. Sekarang Bapak mau mengantarnya ke dokter Isnan. “ Selesai Emi bicara Pak Saerah nampak keluar menuntun sepeda.“Mau beli miso, ya?” Pak Saerah memandang Emi dan Dian. “Tunggu sebentar ya! Siti akan segera membumbui kuahnya dan menggoreng bawang merah,” lanjutnya ramah.Siti bangkit berdiri sembari mengibaskan roknya. Bawang merah yang selesai dikupas berada dalam panci yang dipenuhi air. Siti pernah bilang bila direndam demikian, tak akan pedih di mata ketika diiris nanti.Emi memapah Dian turun dan duduk di balai-balai. Sementara Siti dan Pak Saerah masuk ke dalam rumah. Ada dua pisau di situ, Emi dan Dian meraihnya satu-satu. Siti nampaknya juga sudah siap dengan talenan dan baki. Emi dan Dian mengiris bawang merah di hadapannya tanpa diminta.Tak berapa lama kemudian, Pak Saerah dan Siti nampak ke luar memapah Bu Saerah. Menuju ke sepeda di depan serambi. Tapi begitu Bu Saerah duduk di boncengan, tubuhnya terkulai. Ia kelihatan lemah sekali.“Aku tak kuat kalau harus bonceng sepeda, Pak,” desis Bu Saerah lirih.“Baiklah aku akan memanggil becak. Ayo masuk lagi,” kata Pak Saerah.“Mengapa mesti memanggil becak, Pak? Antarlah Bu Saerah ke dokter dengan kursi rodaku,” cetus Dian tiba-tiba.Gerakan Pak Saerah dan Siti terhenti. Ditolehnya Dian. Dian mengangguk meyakinkan. Emi bergegas mendorong kursi roda ke dekat mereka.“Aaah… kalau begitu… terima kasih banyak,” kata Pak Saerah setelah sesaat terpana. Rasa gembira dan haru berbaur menjadi satu.Nah, Bu Saerah telah duduk manis di atas kursi roda. Pak Saerah mendorongnya ke luar halaman, menyusur sepanjang tepi jalan, menuju tempat praktek dokter Isnan. Siti berdiri mengawasi dari tepi serambi, hingga Bapak-ibunya menikung jalan dan hilang dari pandangan.“Kalian jadi ikut repot,” Siti menoleh pada Dian dan Emi yang tengah sibuk mengiris bawang merah.“Ah, tidak,” sergah Emi dan Dian tulus. “Bawang merahnya tidak pedih di mata, lo,” sambung Emi. “He-eh,” Dian mengiyakan.Siti tersenyum sembari melangkah ke dalam rumah. Ketika ke luar lagi, ia nampak membawa sebuah piring kecil berisi ulekan bumbu miso. Bumbu itu dimasukkannya ke dalam panci kuah yang berada di bagian belakang gerobak. Begitu tutup panci dibuka, wusss… kepul-kepul asap panas mengudara dari dalamnya. Sesudah itu, Siti masuk ke dalam rumah lagi, dan beberapa saat kemudian ke luar lagi. Begitu berulang-ulang. Ia sungguh sibuk. Membuat sambal, membuat acar mentimun, mengiris daun seledri, mencuci daun selada, dan entah apa lagi. Yang pasti ia terampil sekali.“Nah, bawang merah sudah selesai diiris nih, Ti,” kata Emi saat Siti memasukkan setumpukkan mangkuk ke dalam laci gerobak.“Terima kasih.” Siti bergegas melangkah ke dalam rumah, membawa irisan bawang merah yang menggunung dalam baki itu untuk di goreng. Sementara Emi dan Dian tiduran di balai-balai sambil bercakap.Beberapa menit berlalu. Beres sudah semua. Siti berseri-seri, ia siap melayani Dian dan Emi. Dalam meracik miso mangkuk pun Siti sudah ahi.“Wah, rasanya tidak beda dengan buatan Bu Saerah atau Pak Saerah.” Emi berkomentar lalu mulutnya berdecap-decap tiada henti.“Iya ya, Siti pasti jadi juragan nanti,” gurau Dian. Emi dan Siti tertawa mendengarnya.Emi dan Dian baru selesai makan miso, ketika Pak Saerah dan Bu Saerah datang. Di dalam hati mereka berdoa agar Bu Saerah cepat sembuh. Siti dan Pak Saerah memapah Bu Saerah masuk ke dalam rumah. Emi mendorong kursi roda tadi ke dekat balai-balai. Dibantunya Dian duduk ke atasnya. Tak lama kemudian Pak Saerah keluar. Di lehernya terkalung handuk putih berukuran kecil. Artinya ia sudah siap untuk pergi ke terminal. Emi segera menyodorkan tiga lembar uang lima ratusan padanya. Itu uang miso Dian dan dirinya. Tapi Pak Saerah malah tertawa.“Wah, jadi berapa rupiah aku harus membayar sewa kursi roda dan rasa capek kalian mengiris bawang merah?” ujar Pak Saerah jenaka sembari menolak uang yang Emi sodorkan.Emi dan Dian terkesiap. Mereka berpandangan.“Kali ini kalian tak usah bayar. Kita barter saja, ya?” nada suara Pak Saerah masih saja jenaka. Lalu mendorong gerobak misonya turun ke halaman.“Terima kasih, Pak,” seru Emi setelah sesaat terpana.“Aku juga terima kasih Pak,” Dian menirukan.Pak Saerah yang telah sampai di tengah halaman menoleh sekilas sambil tersenyum manis. “Sama-sama!” katanya.“Terima kasih untuk semuanya Emi, Dian…,” gantian Siti kini yang bicara. Tiba-tiba ia sudah berada di mulut pintu.“Sama-sama,” Emi dan Dian menjawab berbarengan. Lantas keduanya berpamitan pulang. Pulang dengan perasaan lapang.***

0 komentar: